AHLAN WA SAHLAN

SELAMAT DATANG

Cari Blog Ini

MESJID

MESJID
BASIS KEKUATAN UMAT
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juni 2010

TIADA YANG SIA-SIA, APA YANG ENGHKAU LAKUKAN.

Suatu hari, seorang anak yg hidup sebagai pedagang asongan dari pintu kepintu, biasanya dilakukan dikompleks-kompleks rumah dinas, kehabisan uang, hari ini kue yang dijajankannya tidak laris, itu berarti hari ini tdk ada jatah untuk perut yang sudah keroncongan minta diisi. Apa lagi sudah banyak rumah yang disinggahinya. Lapar, haus, lelah, bercampur aduk, entah yang mana lebih dahulu harus dipenuhi tuntutannya, apakah mencari makan dan minum terlebih dahulu, atau istirahat sejenak. Akhirnya diputuskan untuk singgah lagi kesebuah rumah, mudah-mudahan situan rumah adalah orang yang berbaik hati, jika tidak membeli kue yg dijajankannya minimal dia mau memberinya makanan jika diminta.
“Assalamu’alaikum….”, lirih sang anak mengucapkan salam setelah mengetuk pintu. “wa’laikussalam”. Melihat yg keluar adalah istri seorang pejabat, karena segan niat sang anak untuk meminta makananpun diurungkan, “kue bu…”. “kue ibu juga masih banyak nak, jadi ndak bisa beli…,lain kali ya…, maaf…”. “oh iya, da apa bu, eh…, anu…., minta airnya aja bu, lg haus, capek keliling”. “tunggu nak, ibu ambilkan”. “Anak ini bukan saja haus, tapi keliatannya dia juga lapar”, benak sang ibu menerka. Kemudian ibu membawakan gelas yang ukurannya agak besar, berisi air susu yang sedikit dikentalkan, dingin, segar….. “Ini nak, ibu buatkan susu, semoga hausnya hilang”. Nikmat anak meminumnya, lapar dan haus pun hilang, karena begitu segarnya sang anak rasakan, jika diminta bayaran atas air susu itu, ia akan berusaha u melakukannya. “Ahhh…., mikmat bu…, minumnannya segar, lapar dan haus udah hiulang, terus saya harus bayar berapa bu?”. “Eh…, ibu mau berbuat baik ko” nggak usah nak, orang tua kami mengajarkan agar tidak mengharap upah jika memberikan kebaikan”. “wwah…, makasih banyak bu, semoga Allah membalas kebaikan ibu, makasih, aku pamit ya bu… “ya, hati-hati nak”.
Dengan girang, Sang anak pun pergi, apa yang dilakukan istri pejabat tadi tidak akan dilupakannya, samapi kapan pun. “Dia istri pejabat, tapi tidak sombong, dia baik sekali, tidak sama kebanyakan istri pejabat yang lain, sombong dan angkuh” Batin anak berbisik, terus mengingat kebaikan sang ibu.
Waktu pun berjalan, puluhan tahun kemudian, sang ibu tua yang sudah janda ditinpa penyaklit yang sangat kritis, balai pengobatan yang agak dekat dengan kediamannya, tidak menyanggupi untuk memberikan pelayanan. Dengan menjual barang yang tersisa, dan bantuan rekan-rekannya, sang ibu pun dikirim ke ibukota karena disana ada dokter yang diharapkan bisa mengobati penyakit komplikasinya.
Dr. Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Setelah melakukan pemeriksaan dan mengecek asal kota sang ibu, dengan segera sang dokter mempersiapkan hal yang dibutuhkan untuk melakukan medical chek up, dan terapi-terapi medis lainnya. Denga penuh perhatian, keikhlasan dan ketulusan dia pun merawat sang ibu karena dia sangat prihatin, mendengar cerita sang ibu disuatu hari, bahwa sang ibu jatuh miskin, bisnis yg dirintis bersama sang suami gagal karena ditipu oleh orang.
“Pokoknya dia harus sembuh”, kata Dr. Sobur disuatu hari. Sang ibu yang terbaring lemah, mendapatkan perhatian khusus dari sang dokter. Masuk bulan ketiga, akhirnya sang ibu benar-benar telah sembuh. Namun ada yang menjadi beban bagi sang ibu, “Ini rumah sakit mewah, dan aku telah dirawat selama tiga bulan, ya… Allah, berapa yang harus saya bayar untuk pengobatan ini, semua harta sdh hampir habis dijual, dengan apa saya harus membayarnya”, Batin sang ibu merintih, tidak sanggup menerima daftar tagihan nanti.
Langkah seorang perawat terdengar mendekati pintu. “Krrrrkh”, “Assalau’ alaikum, bagaimana keadaannya bu, baik-baik ya…”. Sapanya dedngan sopan sambil menyodorkan map berwarna coklat. Kemudian berlalu setelah melakukan beberapa percakapan hangat dengan sang ibu. “Tangan gemetar memeluk map yang baru diterimanya, rupanya sang ibu belum membukanya. “Oh Tuhan, aku tak akan sanggup melihat angka yang tertulis dalam tagihan ini, aku tidak punya apa2 untuk membayarnya”. “Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Pelan2 ibu membuka. “SEMUA BIAYA PENGOBATAN IBU, TELAH LUNAS DENGAN SEGELAS SUSU”, ttd. Dr. Sobur Nurjaman Ali, (penjajang kue asongan).
Subehaanallah…..
Mengharap imbalan dari manusia dalam meberikan kebaikan adalah harapan yang sangat murah
Manusia hanya bisa member yang sedikit, dan balasan dari sisi Allah jauh lebih banyak, jauh lebih baik, dan jauh lebih sempurna, karena Allah maha kaya pemilik langit dan bumi.
Berbuatlah, dan balasan dari sisi Allah itu adalah pasti. Dituai ketika masih didunia atau diakhirat.
“Maka barang siaspa mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar biji zarrah, niscaya dia akan melihat balsannya” (Al Zil-Zal : 7-8)
KIRIMAN AKH ARDIAHSYAH AMAL.

Selasa, 20 April 2010

BATAS WAKTU 3 BULAN UNTUK SUAMI

Pagi hari Kamis lalu, 13 Juli 2006, seorang wanita mudah berusia 24 tahun datang ke Islamic Cultural Center of New York. Dengan pakaian Muslimah yang rapi, nampak seperti santri bule duduk menunggu kedatangan saya di Islamic Center New York. Dengan sedikit malu dan menundukkan muka, dia memulai percakapan dengan bertanya, "Apa hukumnya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan apakah seorang wanita yang bersuamikan non Muslim bisa diterima menjadi Muslimah?
Tentu saja saya terkejut dengan pertanyaan itu. Mulanya saya mengira bahwa sang wanita yang duduk di hadapan saya ini adalah seorang Muslimah, barangkali dari negara Balkan, Bosnia atau Kosovo. Tapi setelah saya tanya, ternyata dia hanyalah seseorang yang baru menemukan Islam lewat internet (beberapa website Islam), dan kini secara bulat berniat untuk memeluk agama, yang menurutnya, the right way for her.
Wanita muda itu bernama Jessica Mendosa. Kelahiran Albany, ibukota negara bagian New York dan kini tinggal di kota New York (New York City) sebagai mahasiswi di salah satu universitas di kota ini. Diapun baru menikah dengan suaminya sekitar 4 bulan yang lalu.
Setelah berta'aruf lebih dekat barulah saya bertanya kepadanya: "Kenapa anda menanyakan tentang boleh tidaknya seorang Muslimah bersuamikan non Muslim? Dan kenapa pula Anda tanyakan apa diterima seorang wanita masuk ke dalam agama Islam jika bersuamikan non Muslim?"
Dengan sedikit grogi atau malu, Jessica menjawab: "I am very much interested in Islam. I have learned it many months".
Saya kemudian memotong: "Where did you learn Islam?" Dia menjawab: "throughn the internet (Islamic websites)".
Saya kemudian menanyakan apa hubungan antara keingin tahuan dia tantang Islam dan seorang wanita bersuamikan non Muslim. Maka dengan berat tapi cukup berani dia katakana: "I've learned Islam and I am sure this is the right way for me. I am willing to embrace Islam now. But I've a problem. I am a wife of a non Muslim".
Ketika saya tanyakan apakah suaminya tahu keinginannya tersebut? Dia menjawab: "yes, and he is very much hostile to my intention".
Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya karena saya yakin dia masih mencintai suami yang baru menikahinya sekitar 4 bulan silam. Saya justru menjelaskan kepadanya pokok-pokok keimanan dan Islam, khususnya makna berislam itu sendiri. Bahwa menerima Islam berarti bersedia menerima segala konsekwensi dari setiap hal yang terkait dengan ajarannya.
"Islam is not only a bunch of ritual teachings, it's a code of life," jelasku. Dalam hal ini seseorang yang mengimani ajaran Islam dan dengan kesadarannya memeluk Islam berarti bersedia mengikuti ajaran-ajaran atau aturan-aturan yang mengikat. Dan penerimaan inilah yang merupakan inti dari keislaman itu sendiri.
Nampaknya Jessica mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Hampir tak pernah bergerak mendengarkan penjelasan-penjelasan mengenai berbagai hal, dari masalah- masalah akidah, ibadah, hingga kepada masalah-masalah mu'amalah, termasuk urgensi membangun rumah tangga yang Islami dalam rangka menjaga generasi Muslim masa depan.
Ketika saya sampai kepada permasalahan pasangan suami isteri itulah, Jessica memberanikan diri menyelah: "But I am still in love with my husband whom I married to just 4 months ago"
Saya juga terkejut dan kasihan dengan Jessica. Hatinya telah mantap untuk menjadi Muslimah. Bahkan menurutnya: "Nothing should prevent me to convert to Islam". Tanpa terasa airmatanya nampak menetes. Saya ikut merasakan dilema yang dihadapinya.
Saya kemudian menjelaskan perihal hukum nikah dalam Islam dan berbagai hal yang terkait, termasuk persyaratan bagi wanita Muslim untuk menikah hanya dengan pria Muslim. Penjelasan saya tentunya tidak bertumpu kepada nash atau berbagai opini ulama, tapi diserta dengan berbagai argumentasi "aqliyah" (rasional) sehingga dapat meyakinkan Jessica dalam hal ini.
Pada akhirnya, mau tidak mau, harus terjadi kompromi. Saya katakan, ketika anda sudah yakin bahwa inilah jalan hidup yang benar untuk anda ikuti, maka jangan sampai hal ini tersia-siakan. Namun di satu sisi saya perlu tegaskan bahwa sebagai Muslimah jika tetap bersuamikan non Muslim maka itu adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum Islam.
Untuk itu, setelah mempertimbangkan berbagai pertimbangan yang terkait, baik berdasarkan "masalih al mursalah" (manfaat-manfaat yang terkait) maupun realita-realita kehidupan di Amerika, serta yang paling penting adalah pengalaman-pengalaman mengislamkan selama ini, saya sampaikan kepada Jessica: "You may embrace Islam. But you have to find any possible way to convince your husband that you are not allowed to maintain this marriage if he insists to oppose Islam".
Dengan penjelasan terakhir ini Jessica nampak cerah, dan dengan tegas mengatakan: "I'll give him a chance in 3 months. If he doesn't want to follow my way, I will ask for a divorce", katanya tanpa ragu.
Saya katakan: "Hopefully people will not perceive that Islam separates between husbands and wives. But this is the rule and I have to tell you about it".
Oleh karena Islamic Center memang masih sepi, dengan hanya disaksikan dua orang Brothers, dengan diiriingi airmata, Jessica Mendosa mendeklarasikan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah". Allahu Akbar wa lillah alhamd!
Sabtu kemarin, Jessica telah resmi bergabung dengan kelas khusus yang dirancang untuk para muallaf "The Islamic Forum for new Muslims" di Islamic Cultural Center. Saya terkejut, Jessica hadir di kelas itu seperti seorang Muslim yang telah lama mempelajari agama ini. Bersemangat menjawab setiap ada hal yang dipertanyakan oleh muallaf lainnya. Sayang saya belum sempat menanyakan perihal suaminya!, New York, 17 Juli 2006
Jessica, Allah bless and further guide you!
*) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Tulisan ini dimuat di www.hidayatullah.com
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.

IMAM ABU HANIFAH DENGAN SEORANG ATHEIS

Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari kalangan bangsa Romawi.
Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan ulama Islam dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya.
Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : "Inilah saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan".
Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usianya yang masih muda.
Abu Hanifah berkata, "sekarang apa yang akan kita perdebatkan!".
Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai pertanyaannya :
Atheis : Pada tahun berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman "Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan".
Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya?, pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.
Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?
Atheis : Ya.
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?
Atheis : Tidak ada angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?
Atheis : Dimanakah Tuhan-mu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu keju?
Atheis : Ya, sudah tentu.
Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya keju itu sekarang?
Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu di seluruh bagian.
Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta'ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!
Atheis :Tunjukkan kepada kami zat Tuhan-mu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?
Atheis :Ya, pernah.
Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?
Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?
Atheis : Ya, masih ada.
Abu Hanifah: Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas?
Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta'ala?!!
Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?
Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta'ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.
Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.
Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.
Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.
"Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?" tanya Atheis.
"Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah.
Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.
"Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?".
Ilmuwan kafir mengangguk.
"Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu".
Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah.
Kiriman Seri Utami - utami@metrindo.co.id
Sumber : http://www.dudung.net
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.

TAUBAT SEJATI SEORANG PEMUDA

Imam Malik bin Dinar mengajari kita dalam bagian ini tentang seorang pemuda kecil di waktu haji, dengan bertutur,
"Ketika kami mengerjakan ibadah haji, kami mengucapkan talbiyah dan berdoa kepada Allah, tiba-tiba aku melihat pemuda yang masih sangat muda usianya memakai pakaian ihram menyendiri di tempat penyendiriannya tidak mengucapkan talbiyah dan tidak berdzikir mengingat Allah seperti orang-orang lainnya. Aku mendatanginya dan bertanya, 'mengapa dia tidak mengucapkan talbiyah ?'"
Dia menjawab, "Apakah talbiyah mencukupi bagiku, sedangkan aku sudah berbuat dosa dengan terang-terangan. Demi Allah! Aku khawatir bila aku mengatakan labbaik maka malaikat menjawab kepadaku, 'tiada labbaik dan tiada kebahagiaan bagimu'. Lalu aku pulang dengan membawa dosa besar."
Aku bertanya kepadanya, "Sesungguhnya kamu memanggil yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dia bertanya, "Apakah kamu menyuruhku untuk mengucapkan talbiyah? "
Aku menjawab, "Ya."
Kemudian dia berbaring di atas tanah, meletakkan salah satu pipinya ke tanah mengambil batu dan meletakkannya di pipi yang lain dan mengucurkan air matanya sembari berucap, "Labbaika Allaahumma labbaika, sungguh telah kutundukkan diriku kepada-Mu dan badan telah kuhempaskan di hadapan-Mu."
Lalu aku melihatnya lagi di Mina dalam keadaan menangis dan dia bekata, "Ya Allah, sesungguhnya orang-orang telah menyembelih kurban dan mendekatkan diri kepada-Mu, sedangkan aku tidak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mendekatkan diri kepadamu kecuali diriku sendiri, maka terimalah pengorbanan diriku. Kemudian dia pingsan dan tersungkur mati. Akupun mohon kepada Allah agar Dia mau menerima amal ibadah dan pertobatannya.
Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan.
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.

Kamis, 15 April 2010

Si Yahudi Itupun Masuk Islam

, ditulis oleh Ummu Raihanah
Friday, 04 August 2006
Ia adalah seorang Yahudi ketika Allah memberinya hidayah menjadi seorang muslim ia berubah menjadi orang yang tawadhu (merendahkan diri) dan sangat giat beribadah. Keislamannya begitu baik dan mendalam. Apakah rahasianya mengapa ia masuk islam?
Berkata Ashim bin Muhammad dalam kitab Lawami Anwar Qulub, “Pernah aku memiliki seorang pekerja yang beragama Yahudi, lalu aku melihatnya di kota Mekkah dalam keadaan merendahkan diri dan giat beribadah. Aku takjub dengan pengamalannya yang demikian baik terhadap ajaran Islam, maka aku tanyakan sebab yang membuatnya masuk Islam.”

Ia berkata, “Aku mendatangi Abu Ishaq al-Najuni An-Naisabud, saat itu ia sedang menyalakan api. Kedatanganku ingin menagih uangku yang ada padanya. Ia berkata padaku, “Masuklah islam, dan takutlah terhadap api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Aku berkata, ”Tidak ada masalah wahai Abu Ishaq, karena engkau juga akan berada di dalamnya”, Ia berkata, “Barangkali yang kau maksud firman Allah Subhanahu Wata’ala, “Dan tidak seorangpun diantara kamu kecuali akan memasukinya” (QS. Maryam ayat 71)
Aku berkata : Benar…

Kemudian ia meminta bajuku, dan aku menuruti permintaannya. Lalu bajuku beliau bungkus dengan bajunya, setelah itu ia lemparkan ke dalam api. Di tunggunya hingga beberapa saat lamanya. Kemudia ia berdiri sambil merintih dan menangis, lalu masuk ke dalam api yang bergejolak. Ia mengambil bajuku di tengah perapian kemudian keluar dari lingkaran api. Perbuatannya itu membuatku takut hingga aku cepat-cepat menghampirinya, kulihat bajunya tidak berubah sedikitpun (baju beliau tidak terbakar/termakan api). Lalu ia membuka bungkusan bajunya, ternyata bajuku telah hangus menjadi arang (terbakar habis) di tengah bajunya sementara baju beliau tak di sentuh oleh api sedikitpun.

Kemudian beliau berkata, “Beginilah makna firman Allah Subhanahu Wata’ala, “Dan tidak seorangpun di antara kamu kecuali akan memasukinya (neraka), sesungguhnya hal itu di hadirat Tuhan-Mu adalah ketetapan yang tidak dapat di ubah” (Qs. Maryam : 71) Aku pun langsung masuk islam di hadapannya”.


Sumber:
Lautan Air mata, Ibnul Jauzy, Pustaka Azzam, Jakarta.

Selasa, 13 April 2010

Siapakah Orang Yang Paling Sibuk ?

Siapakah Orang Yang Paling Sibuk ?
Orang yang paling sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah- olah ia harus mengurus kerajaan sebesar kerajaan Nabi Sulaiman a.s
Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada, selalu menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal- amal kebaikan di mana kuburnya akan diperluaskan sejauh mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak
karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Sumber : NN
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.

TUJUH KEAJAIBAN DUNIA


Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari 'Tujuh Keajaiban Dunia'.
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan 'Tujuh Keajaiban Dunia' saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi sbb :
1] Piramida
2] Taj Mahal
3] Tembok Besar Cina
4] Menara Pisa
5] Kuil Angkor
6] Menara Eiffel
7] Kuil Parthenon
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab, 'Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya 'keajaiban itu'. Sang guru berkata,'Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya'.
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, 'Saya pikir, 'Tujuh Keajaiban Dunia' itu adalah :
1] Bisa melihat,
2] Bisa mendengar,
3] Bisa menyentuh,
4] Bisa menyayangi,
5] Bisa merasakan,
6] Bisa tertawa, dan
7] Bisa mencintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya 'keajaiban'. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai 'biasa'.
Sumber : http://ukhuwah.or.id/
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.