AHLAN WA SAHLAN

SELAMAT DATANG

Cari Blog Ini

MESJID

MESJID
BASIS KEKUATAN UMAT
Tampilkan postingan dengan label SHIROH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SHIROH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Maret 2010

SHIROH SAHABAT


Abdullah bin Abbas, Menjadi "Tinta" bagi Umat
Di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika bersyahadat mereka berusia sangat muda. Atau, ketika mereka dilahirkan, orang tuanya telah menjadi Muslim lebih dulu. Salah satunya adalah Abdullah bin Abbas, atau lebih dikenal dengan Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Boleh dikata, ia hidup bersama Rasulullah SAW dan belajar langsung dari beliau. Ia adalah sepupu Rasulullah. Rasulullah pernah merengkuhnya ke dada beliau seraya berdoa, "Ya Allah, ajarilah ia al- hikmah." Dalam suatu riwayat disebutkan, "(Ajarilah ia) al-Kitab (Alquran)."
Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara Rasulullah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, ummahatul mu'minin, Maimunah binti al-Harist.
Tengah malam, ia melihat Rasulullah bangun dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, sambil diam-diam mengamati cara Rasulullah bersuci. Rasul SAW melihatnya, sambil mengusap kepalanya dan berdoa, ''Ya Allah, anugerahilah pemahaman agama kepadanya.''
Kemudian Rasulullah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang Rasulullah SAW; tetapi RasuluLlah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya.
Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan Rasulullah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, Rasulullah mempertanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang utusan Allah SWT. Rasulullah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi doanya ketika berwudhu.
Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, Rasulullah wafat. Ia sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikan kesedihannya berlarut-larut. Ia memantapkan hati untuk nyantri para para sahabat Rasul SAW.
Dengan sabar, ia menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau dakwahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, bahkan hingga tertidur.
Dan, sesuai doa Rasulullah, Ibnu Abbas mendapatkan banyak ilmu. Ketekunannya belajar membuatnya menjadi seorang ulama yang mumpuni. Ia dijuluki sebagai 'tinta'-nya umat, dalam menyebarkan tafsir dan fikih.
Ibn Umar pernah berkata kepada salah seorang yang bertanya mengenai suatu ayat kepadanya, "Berangkatlah menuju Ibnu Abbas lalu tanyakanlah kepadanya sebab ia adalah sisa sahabat yang masih hidup yang paling mengetahui wahyu yang diturunkan kepada Nabi SAW."
Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syura-nya dengan beberapa sahabat senior. Ia selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat.
Beberapa sahabat Umar mempertanyakan kenapa mengajak "anak muda" dalam diskusi mereka. Umar menjawabnya dengan mengundang para sahabat, termasuk Ibnu Abbas. Umar berkata, "Apa pendapat kalian mengenai firman Allah, 'Bila telah datang pertolongan Allah dan Penaklukan.' (surat An-Nahsr hingga selesai). Maka, sebagian mereka berkata, "Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya bila kita menang (dapat menaklukkan Mekkah)." Sebagian lagi hanya terdiam saja. Lalu, Umar pun berkata kepada Ibnu Abbas, "Apakah kamu juga mengatakan demikian?" Ia menjawab, "Tidak."
Lalu Umar bertanya, "Kalau begitu, apa yang akan kamu katakan?" Ia menjawab, "Itu berkenaan dengan ajal Rasulullah SAW di mana Allah memberitahukan kepadanya bila telah datang pertolongan-Nya dan penaklukan kota Mekkah, maka itulah tanda ajalmu (Rasulullah-red), karena itu sucikanlah Dia dengan memuji Rabbmu dan minta ampunlah kepada-Nya karena Dia Maha Menerima Tobat." Umar pun berkata, "Yang aku ketahui memang seperti yang engkau ketahui itu." Secara tidak langsung Umar hendak menjawab, kendati muda, keilmuan Ibnu Abbas sangat mumpuni.
Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, ia bergabung dengan pasukan Muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan Abdullah bin Abi-Sarh. Ia terlibat dalam pertempuran dan dalam dakwah Islam di sana. Ia juga menjadi amirul hajj pada tahun 35 Hijrah.
Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk berdakwah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12 ribu dari 16 ribu Khawarij bertobat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.
Ia sempat diangkat menjadi penguasa di Bashrah oleh khalifah Ali. Namun tatkala Ali meninggal karena terbunuh, ia pulang ke Hijaz, bermukim di Mekkah, sebelum akhirnya menuju Tha`if dan wafat di sana.
Ibnu Abbas meninggal pada tahun 68 H dalam usia 71 tahun. Di hari pemakamannya, sahabat Abu Hurairah RA, berkata, "Hari ini telah wafat ulama umat. Semoga Allah SWT berkenan memberikan pengganti Abdullah bin Abbas."

SHIROH/SEJARAH SAHABAT

Sekilas Tentang Abu Bakar Ash-Shidiq ra
Namanya ialah Abdullah Bin Utsman bin 'Aamir Al Quraisyi Abu Bakar Bin Abi Qahafah Attaymi. Ia merupakan Khalifah Ar-Rasyidin yang pertama dan salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga tanpa dihisab. Ia termasuk orang-orang yg paling pertama masuk islam dan orang dewasa laki-laki pertama yang masuk Islam.
Dia mengerahkan tenaga dan hartanya untuk Islam. Ia selalu membela Nabi Saw. dengan gagah berani. Allah menjadikannya sebagai pelindung agama Islam, juga memberikan rezeki keimanan dan keyakinan kepadanya. Ia adalah salah satu pembesar kaum muslimin dan sebagai pedang yang menebas leher orang-orang munafik dan murtad.
Ia dilahirkan dua tahun setengah sebelum kejadian 'Aamul Fiil. Ia tumbuh dan berkembang menjadi seorang pemuda yang lurus dan tidak pernah melakukan tindakan yang menyimpang dan lalim. Ia menjauhkan diri dari keburukan masa jahiliyah dan menghiasi dirinya dengan sisi baik dari akhlak bangsa Arab.
Ia merupakan orang yang suka bergaul sekaligus seorang teman bicara yang menyenangkan. Ia selalu menepati janji dan selalu mencintai orang lain. Ia telah mengharamkan minuman keras bagi dirinya sebelum Islam sendiri mengharamkannya. Selain itu, ia gemar melakukan perbuatan kebaikan dan selalu menghargai orang lain. Ia juga selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan membela orang-orang yang lemah. Ia memiliki Nasab yang terkenal, baik dari nenek moyangya atau pun para keturunannya. Ia juga selalu membela orang-orang yang lemah dan dan menyukai orang- orang yang kuat.
Ia adalah tuan para pembesar dan dia sering membayarkan diyat orang lain. Jika ada orang yang meminjam uang kepadanya untuk membayar diyat, ia sedekahkan uang itu. Jika ada orang yang hendak membayar diyat kepadanya, ia akan menolak diyat itu.
Ia memiliki kedudukan yang tinggi, kata-katanya didengarkan. Ia adalah seorang saudagar yang besar yang ahli dalam perniagaan yang piawai. Ia pandai menafsirkan ru'yah dan mimpi serta semua hal yang ia lihat oleh seseorang dalam tidurnya.
Ia diberi julukan 'Atiiq karena ketampanan wajahnya, kebagusan nasabnya, dan kesucian nenek moyangnya. Dirinya tidak memiliki cela sedikitpun. Ia memiliki akal yang sangat cerdas dan jernih. Ia adalah orang yang tampan dan gagah, memiliki kulit yang putih dan tubuh yang ramping, kelopak mata yang cekung, tubuh yang langsing, dahi yang menonjol dan wajah yang rampin.
Ia mencintai Nabi Muhammad Saw dan selalu merasa rindu kepada beliau. Ia memeluk Islam tanpa ragu-ragu. Ia memeluk keimanan dengan erat. Ia keluarkan hartanya untuk mendukung agama dan membebeskan para budak muslimyang lemah. Ia selalu berlaku sabar terhadap perbuatan aniaya kaum musyrik. Manakala aniaya mereka menjadi-jadi hingga menjadikannya sulit bernafas, maka dia berhijrah meninggalkan kota mekkah.
Ia mempercayai cerita kejadian Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw tanpa keraguan sedikitpun dan membela Nabi Saw dengan sekuat tenaga . Oleh karena itu, Nabi Saw menjulukinya Ash-Shiddiq. Ia adalah kekasih dan sahabat Nabi Saw. Ia kawinkan putrinya, Siti Aisyah ra, yang suci, bersih, perawan, yang memilki keturunan yang mulia, kepada Nabi Saw.
Ia ikut keluar hijrah dengan Nabi Saw pada waktu menjelang shubuh dan setelah itu keduanya bersembunyi di Gua Hira. Ia menyaksikan berbagai peristiwa bersama-sama Nabi Saw dan bersama-sama menghadapi berbagai tantangan, serta ikut berbagai pertempuran yang dijanjikan akan mendapatkan kemenangan oleh Allah SWT.
Pada waktu malam, ia selalu bangun untuk melaksanakan shalat, sedangkan pada waktu siangnya, ia berpuasa. Bila berada ditengah-tengah, ia selalu menunjukan sikap yang tawadhu. Ia juga giat mencari dunia sekaligus bersikap zuhud. Ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai ilmu agama dan selalu mempraktikkannya. Ia memiliki berbagai kumpulan sifat yang utama.
Ia selalu mengetuk dan memasuki pintu kebaikan, selalu mengikuti jalan kebaikan. Ia sangat peka dengan lingkungannya, mudah menitikkan air mata, selalu berusaha menyenangkan orang lain, dan menghormati orang-orang yang baik. Nabi Saw. memberitahukan kepadanya bahwa ia telah dibebaskan dari api neraka dan dia akan berada disurga dengan orang-orang yang terpilih.
Ketiika ia dibai'at untuk menjadi khalifah, maka ia tidak mau. Ia terus mnyembunyikan dirinya dirumah karena tidak mau memegang jabatan kekhalifahan. Manakala ia bersedia untuk memegang kekhalifahan, ia kirim tentara yang dipimpin oleh Usamah untuk memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang bersikeras menolak membayar zakat.
Ia mengirimkan tentara keberbagai belahan dunia hingga menjadikan guncang berbagai kerajaan. Ia menciptakan berbagai kemenangan dalam peperangan itu, sehingga wilayah Islam semakin terbuka luas. Ia satukan Al-Qur'an serta menyebarkan agama dan keimanan.
Ia adalah seorang orator, khalifahyang bijaksana yang dikenal dengan sifat yang sangat lembut, ramah, bertaqwa dan berilmu. Ia adalah orang pertama yang masuk Islam, orang pertama yang menyebarkan kedamaian, orang pertama yang menjadi imam shalat, dan orang pertama yang menjadi khalifah.
Ia selalu menghormati orang dewasa sekaligus menyayangi anak kecil. Orang yang lemah menjadi kuat dihadapannya hingga mereka dapat mengembalikan haknya. Orang yang kuat menjadi lemah dihadapannya hingga dapat diambil hak orang lain dari mereka. Ketika para panglimanya menaiki kuda, ia berjalan kaki di samping mereka. Ia perah susu dari sapi untuk diminum oleh anak-anak tetangganya. Ia menikah sebanyak enam kali dan dari perkawinannya itu ia dikaruniai enam orang anak .
Ia merupakan orang yang lembut dan berwibawa. Ia menemani Nabi Saw baik didunia maupun di kuburan. Ia juga yang menemaninya di kolam surga pada hari kiamat. Abu bakar r.a. wafat di Madinah, tiga belas tahun setelah Hijrahnya Rasulullah SAW ke kota Madinah. Ia dimakamkan disisi Makam Rasulullah SAW.
Dikutip dari Buku 100 Kisah Teladan Abu Bakar RA, penulis: M. Shiddiq Al-Minsyawi
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.

SHIROH SAHABAT


Abdullah bin Abbas, Menjadi "Tinta" bagi Umat
Di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika bersyahadat mereka berusia sangat muda. Atau, ketika mereka dilahirkan, orang tuanya telah menjadi Muslim lebih dulu. Salah satunya adalah Abdullah bin Abbas, atau lebih dikenal dengan Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Boleh dikata, ia hidup bersama Rasulullah SAW dan belajar langsung dari beliau. Ia adalah sepupu Rasulullah. Rasulullah pernah merengkuhnya ke dada beliau seraya berdoa, "Ya Allah, ajarilah ia al- hikmah." Dalam suatu riwayat disebutkan, "(Ajarilah ia) al-Kitab (Alquran)."
Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara Rasulullah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, ummahatul mu'minin, Maimunah binti al-Harist.
Tengah malam, ia melihat Rasulullah bangun dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, sambil diam-diam mengamati cara Rasulullah bersuci. Rasul SAW melihatnya, sambil mengusap kepalanya dan berdoa, ''Ya Allah, anugerahilah pemahaman agama kepadanya.''
Kemudian Rasulullah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang Rasulullah SAW; tetapi RasuluLlah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya.
Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan Rasulullah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, Rasulullah mempertanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang utusan Allah SWT. Rasulullah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi doanya ketika berwudhu.
Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, Rasulullah wafat. Ia sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikan kesedihannya berlarut-larut. Ia memantapkan hati untuk nyantri para para sahabat Rasul SAW.
Dengan sabar, ia menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau dakwahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, bahkan hingga tertidur.
Dan, sesuai doa Rasulullah, Ibnu Abbas mendapatkan banyak ilmu. Ketekunannya belajar membuatnya menjadi seorang ulama yang mumpuni. Ia dijuluki sebagai 'tinta'-nya umat, dalam menyebarkan tafsir dan fikih.
Ibn Umar pernah berkata kepada salah seorang yang bertanya mengenai suatu ayat kepadanya, "Berangkatlah menuju Ibnu Abbas lalu tanyakanlah kepadanya sebab ia adalah sisa sahabat yang masih hidup yang paling mengetahui wahyu yang diturunkan kepada Nabi SAW."
Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syura-nya dengan beberapa sahabat senior. Ia selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat.
Beberapa sahabat Umar mempertanyakan kenapa mengajak "anak muda" dalam diskusi mereka. Umar menjawabnya dengan mengundang para sahabat, termasuk Ibnu Abbas. Umar berkata, "Apa pendapat kalian mengenai firman Allah, 'Bila telah datang pertolongan Allah dan Penaklukan.' (surat An-Nahsr hingga selesai). Maka, sebagian mereka berkata, "Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya bila kita menang (dapat menaklukkan Mekkah)." Sebagian lagi hanya terdiam saja. Lalu, Umar pun berkata kepada Ibnu Abbas, "Apakah kamu juga mengatakan demikian?" Ia menjawab, "Tidak."
Lalu Umar bertanya, "Kalau begitu, apa yang akan kamu katakan?" Ia menjawab, "Itu berkenaan dengan ajal Rasulullah SAW di mana Allah memberitahukan kepadanya bila telah datang pertolongan-Nya dan penaklukan kota Mekkah, maka itulah tanda ajalmu (Rasulullah-red), karena itu sucikanlah Dia dengan memuji Rabbmu dan minta ampunlah kepada-Nya karena Dia Maha Menerima Tobat." Umar pun berkata, "Yang aku ketahui memang seperti yang engkau ketahui itu." Secara tidak langsung Umar hendak menjawab, kendati muda, keilmuan Ibnu Abbas sangat mumpuni.
Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, ia bergabung dengan pasukan Muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan Abdullah bin Abi-Sarh. Ia terlibat dalam pertempuran dan dalam dakwah Islam di sana. Ia juga menjadi amirul hajj pada tahun 35 Hijrah.
Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk berdakwah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12 ribu dari 16 ribu Khawarij bertobat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.
Ia sempat diangkat menjadi penguasa di Bashrah oleh khalifah Ali. Namun tatkala Ali meninggal karena terbunuh, ia pulang ke Hijaz, bermukim di Mekkah, sebelum akhirnya menuju Tha`if dan wafat di sana.
Ibnu Abbas meninggal pada tahun 68 H dalam usia 71 tahun. Di hari pemakamannya, sahabat Abu Hurairah RA, berkata, "Hari ini telah wafat ulama umat. Semoga Allah SWT berkenan memberikan pengganti Abdullah bin Abbas."

Sabtu, 06 Maret 2010

Kehalusan, Kelemah lembutan dan Kesabaran Rasulullah

Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-orang zhalim dan jahat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memancangkan pondasi-pondasi keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan kebaikan dengan bimbingan karunia yang telah Allah curahkan berupa perintah dan larangan. Kita tidak perlu takut adanya kezhaliman, perampasan, pengambilan dan pelanggaran hak di rumah beliau.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah.” (HR. Ahmad)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan: “Suatu kali aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. ternyata tarikan tadi begitu keras sehingga ujung kain yang tebal itu membekas di leher beliau. Si Arab badui itu berkata: “Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Allah!” Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya.” (Muttafaq